Selasa, 26 Mei 2020

Pengalaman Menhadapi SARS, Taiwan Kuat Menghadapi COVID19

Sejak awal tahun 2020, dunia mulai menyadari bahaya pandemi virus corona (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal COVID-19. Tak banyak negara yang berhasil mengantisipasi virus penyakit yang menyerang sistem pernapasan dan imun ini.
Tak perlu waktu lama, semenjak virus ini berhasil diidentifikasi badan kesehatan dunia (WHO). Virus corona dengan cepatnya menginfeksi sejumlah orang termasuk di luar Kota Wuhan, China.
Kerabat terdekat China, Taiwan pun ikut terdampak COVID-19. Namun berbeda dengan negara kebanyakan, Taiwan berhasil mengontrol ketat angka penularan dan penyebaran virus corona dalam sepuluh pekan, sejak pandemi ini mulai merebak secara global. 
Jumlah pasien positif yang terinfeksi COVID-19 di Taiwan berhasil ditekan habis-habisan, agar tidak sampai melewati angka 400 kasus. Kenapa hal tersebut bisa terjadi, jawabannya adalah pelajaran di masa lalu saat Taiwan menghadapi wabah SARS pada 2003 silam.
Selama wabah SARS, Taiwan adalah salah satu wilayah yang paling parah dampaknya, sama seperti dengan Hong Kong dan China Selatan. Lebih dari 150.000 orang dikarantina di Taiwan dan 181 orang meninggal dunia. 
Memang wabah penyakit SARS tak bisa dibandingkan dengan pandemi COVID-19 saat ini. Namun SARS memberikan bayangan singkat, kepada sebagian besar negara di Asia tentang kesiapan pemerintah untuk merespon wabah penyakit di masa depan.
Hal ini membantu banyak negara di kawasan itu bereaksi lebih cepat terhadap wabah COVID-19 saat ini dan mengambil keputusan lebih serius daripada di bagian lain dunia, baik di tingkat pemerintah maupun masyarakat. Area-area di wilayah seperti Taiwan berani mengontrol perbatasan dan pemakaian masker secara masif dengan cepat menjadi sebuah. 
Sebagaimana dirangkum dari CNN, Taiwan memiliki sistem kesehatan kelas dunia, dengan cakupan universal. Ketika berita tentang COVID-19 mulai muncul dari Wuhan saat Tahun Baru Imlek, para pejabat di Pusat Komando Kesehatan Nasional (NHCC) Taiwan langsung bergerak cepat untuk menanggapi potensi ancaman. 
"Taiwan dengan cepat menghasilkan dan mengimplementasikan sedikitnya 124 item tindakan dalam lima minggu terakhir untuk melindungi kesehatan masyarakat," kata Jason Wang, seorang dokter di Taiwan dan profesor di Stanford Medicine.
"Kebijakan dan tindakan melampaui kontrol perbatasan karena mereka mengakui bahwa itu tidak cukup." tambahnya. 
Taiwan sudah mulai mengontrol perbatasan ketika negara-negara lain masih memperdebatkan tindakan apa yang harus dilakukan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada Januari, Universitas Johns Hopkins mengatakan Taiwan adalah salah satu daerah paling berisiko di luar China daratan karena kedekatan, ikatan, dan hubungan transportasi dengan China.
Di antara langkah-langkah awal yang menentukan adalah keputusan untuk melarang perjalanan dari dan ke China daratan, melarang kapal pesiar dari China daratan untuk berlabuh, dan memberlakukan hukum yang ketat bagi siapa pun yang melanggar perintah karantina rumah.
Selain itu, otoritas Taiwan juga bergerak untuk meningkatkan produksi masker dalam negeri untuk memastikan pasokan aman, meluncurkan pengujian, dan memberikan hukuman bagi penyebar disinformasi terkait COVID-19. 
"Mengingat penyebaran terus-menerus COVID-19 di seluruh dunia, memahami tindakan yang diterapkan dengan cepat di Taiwan, dan efektivitas tindakan ini dalam mencegah epidemi skala besar, dapat menjadi pelajaran bagi negara-negara lain," kata Wang dan rekannya. 
"Pemerintah Taiwan belajar dari pengalaman SARS pada 2003 dan membentuk mekanisme respons kesehatan masyarakat untuk tindakan cepat untuk krisis berikutnya. Otoritas yang terlatih dan berpengalaman dengan cepat mengenali krisis dan mengaktifkan struktur manajemen darurat untuk mengatasi wabah yang muncul," tambah Wang.
https://voi.id/artikel/baca/4438/berpengalaman-lawan-sars-taiwan-kuat-menghadapi-pandemi-covid-19